Spektrum 28 GHZ Ini Tidak Feksible Untuk 5G

Spektrum 28 GHZ Ini Tidak Feksible Untuk 5G

Spektrum 28 GHZ Ini Tidak Feksible Untuk 5G

Dari ZTE ini akan menyatakan frekuensi dimana pita ekstra lebar di rentang 27 GHZ dan 28 GHZ dengan di nilai tidak pas sebagai platform 5G. dengan perusahaan yang berasal dari negara china ini tersebut akan menyarankan penggunaan frekuensi 3,5 GHZ yang dimana saat ini di gunakan untuk sebagai sambungan satelit. Dari Direktor ZTE indonesia ini akan menagatakan bahwa pihak ingin menjadi pemimpin dalam pengembangan dimana menjadi 5G. selain itu, dari pihaknya pun akan melihat dimana sebuah potensi yang sangat besar untuk pasar di negara indonesia ini dari sisi jumlah penduduk juga jumlah orang muda dengan secara total.

Pertumbuhan penggunaan data seluler yang tinggi dan masih rendahnya penetrasi internet kabel membuat Indonesia pasar yang unik yang perlu mendapat perhatian. Tak heran bila selang sebulan setelah gelaran Mobile World Congress (MWC) di Barcelona, Spanyol, ZTE menunjuk Indonesia menjadi salah satu tujuan dalam Leading 5G Tour 2018. Oleh karena itu, pihaknya pun menantikan kepastian spektrum dari pemerintah agar bisa membawa teknologi yang telah diuji di Guangzhou, China ke Indonesia. Sayangnya, dia belum bisa menyebut waktu perkiraan kapan uji coba bisa dimulai karena faktor kepastian regulasi tentang spektrum. Tanpa regulasi soal spektrum, kita bahkan tidak berani melakukan demo di Indonesia.

Menurutnya, secara internasional memang tidak ada ketetapan pasti berapa spektrum yang bisa digunakan untuk menunjang teknologi 5G. Kendati demikian, dia menyebut negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan negara di Eropa bisa menjadi anutan. Pasalnya, utilisasi spektrum di setiap negara berbeda sehingga harus disesuaikan dengan keadaan negaranya masing-masing. Dia menuturkan, mengacu pada uji coba di China, pihaknya yang bekerja sama dengan China Mobile, perusahaan telekomunikasi menggunakan spektrum 3,5 GHz. Dari uji coba pada Juni 2017 itu menghasilkan pihaknya bisa menyentuh kecepatan puncak pada 2 Gpbs. Penggunaan pita lebar 3,5 GHz sebenarnya bisa mendukung baik 4G maupun 5G sehingga utilisasinya bisa lebih optimum.

Bukan tidak mungkin, katanya, penerapan 5G di Indonesia akan memberikan pelayanan unik seperti solusi bagi usaha kecil dan menengah dan perusahaan rintisan. Namun sebelum bisa melangkah lebih jauh dengan kecepatan transfer data tinggi, pemerintah Indonesia belum memberikan sinyal spektrum mana yang bisa dijadikan alternatif. Di China sudah dites dengan 3,5 GHz

Penerapan 5G, katanya, tak memerlukan pita yang sangat lebar seperti 27 GHz atau 28 GHz. Secara teknis, penggunaan jenis pita ini justru tidak layak atau tidak feasible. Terlepas dari itu, dia menyebut pemerintah memiliki pertimbangan tersendiri untuk memilih spektrum mana yang bisa diutilisasi. Benjamin menyebut bila pemerintah telah menetapkan spektrum mana yang bisa digunakan, pihaknya bakal melakukan kajian agar bisa melakukan penyesuaian. Tujuannya, agar ketika 5G siap diterapkan ZTE menjadi pemain utama di Indonesia. Komitmen itu terlihat dengan penambahan investasi di bidang riset dan pengembangan dengan porsi 12% dari total pendapatan perusahaan.

Sambil menunggu sikap pemerintah, pihaknya telah melakukan diskusi dengan operator-operator seperti Telkomsel, Indosat, XL dan Smartfren untuk menjajaki peluang penerapan 5G. Menurut Benjamin, sejak Oktober 2017 pihaknya telah mengusulkan kepada pemerintah tentang materi acuan dari pengalaman uji coba yang dilaksanakan. Kendati demikian, dia belum mau menyebut pembicaraan dengan operator ini kini sudah sampai tahap mana. Kalau pemerintah sudah menetapkan berapa, ZTE akan melakukan penelaahan studi. Kita mau menjadi leader saat 5G datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *